Sabtu, 23 Maret 2013

Unagi Kabayaki (うなぎ蒲焼) Made In Indonesia


Pernahkan anda makan unagi kabayaki di restoran Jepang, misalnya di Sushi Tei, Sushi Groove, Shin Men, Midori?, menunya terdiri dari unagi kabayaki (sidat panggang) yang lezat yang dimakan bersama dengan nasi, ditambah sop miso, dan ocha dingin (teh hijau) yang sangat nikmat. Sekarang untuk unagi kabayaki dari ikan sidat asli Indonesia jenis Anguilla Bicolor sp. yang dibudidayakan sudah bisa dibeli dan dinikmati di  Indonesia.
Unagi Kabayaki di Restoran Sushi Tei
Unagi kabayaki di Restoran Sushi Groove

Dari hasil budidaya ikan sidat di salah satu farm binaan kami Citaman's Hill Eel Farm, telah berhasil memproduksi ikan sidat panggang khas Jepang (Unagi Kabayaki).

Unagi Kabayaki Lezaat Made in Citaman's Hill Eel Farm

Budidaya ikan sidat dilakukan di lahan farm seluas 1,5 ha., dengan luas total kolam 7.200 m2 dan terus dikembangkan sampai 10.000 m2. Kapasitas panen ikan sidat di kolam budidaya mencapai 20 ton per tahun sidat hidup, atau panen sekitar 1,7 ton per bulan. Dengan produksi kabayaki 1 ton per bulan.
Kolam Sidat Citaman's Hill 400 m2 (1 dari 22 kolam)

 
Video Kolam Sidat Citaman's Hill (1 dari 22 kolam)

Ikan sidat dipelihara dari anakan sidat (elver) dan fingerling berkualitas seberat 5 gram sampai dengan 50 gram, kemudian dipanen saat mencapai ukuran 200 gr ~ 350 gr (ukuran sidat konsumsi). Sidat budidaya di farm ini gemuk, kepala kecil dibanding badan, dan mengandung lemak yang cukup, memberi aroma nikmat, saat dipanggang.

Dari sidat hidup yang dipanen dapat diperoleh sidat panggang (unagi kabayaki) dengan kapasitas 1 ton per bulan, untuk pasaran lokal dan eksport. Unagi kabayaki kami digunakan restoran-restoran Jepang terkemuka di Indonesia dan luar negeri, karena kualitas unagi kabayaki kami sangat tinggi dan rasa yang sangat enak.

Citaman's Hill Unagi Kabayaki beku [Frozen Roasted Eel with Souce]
Dalam proses pembuatan unagi kabayaki, ikan sidat di fillet, tanpa kepala dan tulang. Kemudian di panggang dengan saos original, hingga harum dan empuk, kemudian dikemas dalam kemasan vacuum, dan dibekukan dalam mesin pendingin (daya tahan dalam kondisi beku bisa seumur dibekukan).
Kualitas ikan sidat produksi Citaman's Hill Eel Farm ini, produk unagi kabayakinya  memiliki grade AAA+ sangat empuk, gurih, dengan aroma yang mengundang selera, juga kandungan lemak yg seimbang, mengandung EPA, DHA, Omega 3, Protein, asam amino lengkap yang sangat tinggi. Juga Vit E, A, B12, Niacin, Thiamin yang sangat tinggi, dibanding ikan salmon, telur, daging sapi, susu, dan daging ayam. Sangat bagus untuk anak-anak dan balita serta bayi, untuk perkembangan otak dan kecerdasan yang super, di jaman yang kompetitif ini kecerdasan anak dapat dipacu dengan nutrisi dari ikan sidat panggang ini. Sidat juga dianggap sebagai "ginseng laut", obat keperkasaan laki-laki (aphrodisiac), penambah stamina.  

Mengenai rasa sudah dibuktikan oleh para pembeli dan mereka yang mencicipi, mereka bilang: "sidatnya enak sekali". Hal tersebut didapat karena ikan sidat dipelihara dalam lingkungan terkontrol, dengan Recirculated Aqua Culture System, juga green water. Sumber air yg digunakan sangat bagus kualitas Aqua, serta pemberian pakan menggunakan pakan pabrikan, yang diberikan sesuai untuk sidat budidaya, dengan protein yang tinggi. Kandungan nutrisi dan nilai gizi bisa di lihat di http://indonesian-eel.blogspot.com/2011/09/nutrisi-ikan-sidat.html

Cara menyajikan unagi kabayaki ini sangat sederhana, ikan sidat beku dalam kemasan vacuum di rendam di air hangat (air jangan sampai masuk kemasan), sampai lunak, dibuka kemasannya dan ditaruh ditatakan microwave kemudian dimasukan ke dalam microwave selama 2 menit. Jika menggunakan oven keluarkan unagi kabayaki yg sudah lunak (bungkus dengan alumunium foil, lalu masukan ke dalam oven. Sajikan dengan saos kabayaki, bisa juga dengan saos teriyaki, dan soup miso, dimakan dengan nasi.

Mengenai harga, Unagi Kabayaki kami tawarkan  hanya Rp 550.000 per kg, dikemas beku dalam plastik vacuum 100, 125 gr, 150 gr, 175 gr, 180 gr,  200 gr, 250 gr, 275 gr, dan 300 gr. Harga adalah jauh lebih murah dibanding dengan sidat import dari Jepang (Made in China) yang mahal Rp 820.000 s/d Rp 1.130.000 per kilogram, jika di check di Setia Budi Supermarket dan Riau Junction di Bandung, atau Cosmo, Ranch Market supermarket Jepang dan Korea di Jakarta dan kota besar lain. Bisa dibandingkan dengan harga sidat di Jepang, lihat situs Rakuten Jepang:
http://search.rakuten.co.jp/search/mall/%E3%81%86%E3%81%AA%E3%81%8E%E8%92%B2%E7%84%BC/-/

Harga ikan sidat di Jepang untuk sidat hidup, dan olahan dapat dilihat di: 
http://www.fis.com/fis/reports/report.asp?l=e&specie=128

Untuk pemesanan ikan sidat panggang / Unagi Kabayaki Citaman's Hill, berlaku term dan condition:  


Pengiriman dalam kemasan styrofoam diberi es atau dry ice, unagi sudah dalam keadaan beku di plastik vacuum. Setelah sampai ditujuan dimasukan kembali ke dalam freezer.
 

Kondisi Unagi Kabayaki:
  1. Beku dalam kemasan plastik vacuum, baru fresh dari kolam max 2 minggu, sudah dipanggang dengan saos unagi kabayaki original.
  2. Kemasan pengiriman styrofoam diberi es, atau dry ice.
  3. Ongkos kirim 50 ribu rupiah/ kg dari Bandung ke Jakarta, untuk kota lain kami bekerjasama dengan JNE ongkos kirim bergantung kota tujuan .
  4. Harga Unagi Kabayaki 1 kg Rp. 550.000
  5. Sidat ditimbang dengan timbangan digital
  6. Untuk sample corporate pengambilan minimum 10 kg (bisa 1 ~ 2 kg untuk sample perorangan). Pembelian selanjutnya untuk corporate minimum 100 kg.
  7. Kapasitas produksi terbatas, hanya 1 ton unagi kabayaki per bulan.
Pembayaran:
  1. Pembayaran total: biaya per kg x berat sidat + berat sidat x ongkos kirim
  2. Pembayaran di transfer dimuka ke Rekening Bank Mandiri KCP Bandung Dago No. Rek. Bank Mandiri : 131-00-0649372-2 atas nama Ir. ARIYA HENDRAWAN
  3. Foto scan bukti pembayaran kirim ke email ariya_hnd@yahoo.com untuk konfirmasi, dan pemberitahuan by phone ke No. HP : +628875001727 atau +6282129112010
Pengiriman:
  1. Pengiriman akan dilakukan lewat JNE/ TIKI ke alamat pemesan, untuk Bandung-Jakarta, Bandung - Jogyakarta, Bandung - Denpasar akan sampai di esok hari untuk pengiriman pagi hari.
  2. Pengiriman akan dilakukan setelah uang diterima, atau paling lambat 1 hari setelah pembayaran dimuka diterima.
  3. Bukti pengiriman akan difoto/ scan dan dikirim lewat email ke alamat buyer, mohon informasi jika barang sudah diterima by phone juga email.
  4. Jika jumlah banyak kami mengirim dengan mobil kami dengan fasilitas cold storage ke wilayah Jawa Barat dan Jabodetabek.

Pembelian Unagi Kabayaki kami bisa menggunakan PayPal dan kartu kredit serta kartu debit Visa maupun Master Card sudah Termasuk Ongkos Kirim untuk seluruh kota besar di Jawa, Bali Sumatera. 


Salam Sidat
Ir. Ariya Hendrawan  [Unity Coop]
- Citaman's Hill - Eel Farm Development & Marketing Consultant -

HP : +628875001727 atau +6282129112010
Komunitas Sidaters di Facebook: http://www.facebook.com/groups/sidaters/
Group sidaters binaan Ariya Hendrawan 1050 orang: http://groups.yahoo.com/group/sidat


Kami juga menyediakan jasa konsultasi pembuatan farm sidat, dengan pengalaman di persidatan sejak tahun 2006 juga kursus private budidaya sidat. Kapasitas farm budidaya sidat yang kami layani konsultasi dan pembuatannya 20 ton - 200 ton/ tahun, dengan proyek berbasis konsultasi dan komisi. Kami membuatkan anda farm yang efisien, modern. open ponds, closed ponds, super intensive, intensive, or semi intensive recirculated aqua culture system, dengan gaya Jepang, Taiwan, atau Eropa, yang disesuaikan dengan kondisi lokal.
Desain Integrated Farm 3D 
Copyright © Ariya Hendrawan

Kami menyediakan jasa teknik, desain dan konstruksi, pengadaan perlengkapan farm untuk pengembangan farm budidaya anda. selain itu kami membuatkan proposal proyek yang layak mendapat pinjaman bank, desain farm 3D, membuat perencanaan usaha (bussiness plan), analisa finansial, simulasi budidaya dengan komputer, melatih dan memberikan training budidaya, serta membuat resirkulasi air kolam budidaya (water treatement facilities). Juga kami membuatkan pabrik dan fasilitas pabrik unagi kabayaki anda.
Desain Kolam Recirculated Aquaculture System 3D GE -Elver
Copyright © Ariya Hendrawan
Siap dibangun proyek kami berikutnya farm sidat modern optimal, sesuai dengan alam di Indonesia terintegrasi di Parung (Sawangan) Bogor, di lahan 3 hektar, dengan dengan kapasitas budidaya 100 ton sidat hidup per tahun dengan fasilitas pendederan glass eel. Kami mengundang investor untuk berinvestasi mulai dari Rp 100 juta, s/d Rp 1 milyard. Total biaya investasi Rp 10 milyard, ditambah 1 pabrik unagi kabayaki senilai 2 milyard. Untuk farm budidaya kpasitas 200 ton/ tahun biaya investasi berkisar 22 milyard sudah dengan pabrik Unagi kabayaki. INVESTOR DALAM DAN LUAR NEGERI WELCOME. KAMI JUGA MELAYANI KURSUS PRIVATE BUDIDAYA DAN PENDAMPINGAN BUDIDAYA [MENTORING - TECHNICAL ADVISORY]
Our Next Eel Farm Project @ Parung 100 - 200 tonnes Live Eels/ years
Read More..

Selasa, 08 Mei 2012

Manisnya Budidaya Ikan Sidat

Budidaya sidat telah menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan dengan keuntungan tinggi. Produksi sidat masih terbatas karena tidak ada teknologi untuk pemijahan untuk komoditas ini, sehingga harga pasar cukup tinggi. Permintaan ikan yang sering disebut sidat atau unagi di pasar internasional mencapai 300.000 ton per tahun.

Dari total kebutuhan, permintaan Jepang untuk jenis unagi kabayaki 150.000 ton per tahun. Selain itu, penggemar ikan berlendir adalah dari Hong Kong, Korea Selatan, Cina, dan Taiwan.  

Direktur Jenderal Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan Slamet Subiakto, dalam siaran pers, Minggu (2012/4/22) mengatakan permintaan domestik juga sangat besar dan tidak dapat terpenuhi.
 
Di Jakarta, permintaan belut adalah sekitar 3 ton per bulan, sebagai akibat pertumbuhan restoran Jepang. Harga belut saat ini mencapai Rp 300.000 hingga Rp 600.000 per kg.
 
Masyarakat didorong jika ingin membudidayakan sidat yang memiliki nilai tinggi ini. "Indonesia adalah negara produsen sidat terbesar di dunia, karena hampir setiap muara di lepas pantai Indonesia ada sidat," kata Slamet dalam acara kunjungan kerja ke PT Java Suisan Indah di Pelabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat.
 
Namun, budidaya sidat masih terkendala pakan. Pemilik PT Indah Suisan Jawa, Ishitani, berpendapat, untuk pakan sidat masih menjadi kendala budidaya karena tidak ada yang sesuai di Indonesia.
 
Ini berkaitan dengan penggunaan pakan udang untuk pakan sidat. Kendala ini membuat pabrik pengolahan sidatnya masih kekurangan bahan baku. "Kapasitas pabrik sekitar 2.000 ton, namun produksi belum optimal, hanya mencapai 300 ton / tahun," jelasnya.
 
Sidat dikenal memiliki nilai gizi tinggi. Hati ikan sidat memiliki 15.000 IU/100 gram vitamin A. Lebih tinggi dari vitamin A mentega yang hanya 1900 gram IU/100. Bahkan kandungan DHA adalah 1337 mg/100 g mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg/100 g atau 748 mg/100 gram untuk makarel.
 
Selain Indonesia, yang eksportir lainnya adalah Eropa, Cina, dan Amerika Serikat.
Read More..

Senin, 19 Maret 2012

BELAJAR MENGANALISIS SEBAB PERMASALAHAN DI DUNIA BUDIDAYA IKAN SIDAT

Fish Bone Analysis Masalah Sidat
Dear All Sidaters,

Sering kita mendengar tentang Jendela Jauhari, ada sisi lain dimana kita tidak mengetahui sama sekali solusi suatu persoalan.

Dalam menggali ilmu kita harus terus menerus belajar, mendengar, berdiskusi, menjawab segala permasalahan yang ada. Jika banyak penasihat terlaksanalah rancangan. Perlu introspeksi diri dan mengukur kemampuan, juga membandingkan kemampuan dan melatih diri menjawab permasalahan begitu pula dalam budidaya ikan sidat.

Dimanakah posisi kita?
Saya Tahu bahwa Saya Tahu = Berpengalaman dan Percaya Diri (Pe De)
Saya Tahu bahwa Saya Tidak Tahu = Tahu Diri alias Bijaksana Mau Menambah Ilmu
Saya Tidak Tahu bahwa Saya Tahu = Kurang Percaya Diri Perlu Dorongan
Saya Tidak Tahu bahwa Saya Tidak tahu = Sok Tahu, Keras Kepala, Tidak Mau Belajar, dan Sering Gagal alias Oon

Tentu kita tidak mau jatuh dalam katagori yang ke empat, makanya kita di group sidaters http://groups.yahoo.com/group/sidat ini terus menerus belajar.

Banyak dari kita memang bukan ahli ikan dengan latar belakang ahli biologi, ahli perikanan, maupun ahli peternakan, kebanyakan memang latar belakang teknik dan bisnis. Dalam kolaborasi yang besar dengan berbagai macam keahlian akan melahirkan kombinasi-kombinasi pengetahuan yang akan melahirkan inovasi, ini yang sangat penting sekali untuk membuat suatu usaha atau bisnis survive. Tetapi kalau ada ahli perikanan, ahli biologi, atau orang-orang yang mengerti tentang ikan dan ikhlas menolong orang lain mencapai potensi tertinggi seseorang tentu akan banyak nasib nelayan dan pembudidaya ikan terangkat di negara ini. Di dunia internet sering dikatakan layanan gratis, sharing (berbagi) di dunia Internet Social Network, nilai suatu usaha layanan internet Billion US dollar. Mari kita terus melayani dan berbagi.

Salah seorang pensiunan suatu balai besar perikanan air tawar di Jawa Barat setelah 35 tahun bekerja dan pensiun, dia katakan 35 tahun kerjaan saya menipu petani/ petambak ikan. Dalam iklim reformasi dan transformasi, dimana diinginkan suasana Good Governance (kepenata-layanan yang baik) maka perlu Reformasi dan Transformasi di dalam kepenatalayanan ke arah yang baik oleh pemerintah di bidang perikanan.

Hal lain penyelundupan glass eel juga masih merajalela. Ingin untung cepat, di sisi aparat, perlu tambahan uang kiri kanan sehingga meloloskan penyelundupan glass eel, elver, dan fingerling ke luar negeri dengan menerima sogokan, dapat mengakibatkan kelangkaan bibit sidat dan musnahnya ikan sidat karena eksploitasi yang berlebihan. Karena itu perlu Local Wisdom (Kebijakan Lokal), dan kesadaran lingkungan dan wawasan akan kelangsungan hidup sidat di alam. Lebih baik ikan sidat kita budidayakan sendiri, dan kita jual ke luar negeri dalam bentuk produk olahan, sehingga nilai tambah dan keuntungan jatuh lebih banyak untuk bangsa kita.
 
Dari hal di atas perlu Reformasi sekaligus Transformasi cara kita berusaha di dunia ikan sidat dengan terus menerus menambah ilmu dan siap berubah kearah yang lebih baik.
 
Jika anda memang merasa sudah hebat, tetap saja seperti kita tahu ikan sidat, makin banyak yg tidak kita ketahui. Apakah ada dari sidaters yg sudah sukses mengawinkan dan memijahkan sidat?
 
Jadi perlu kita juga mawas diri dengan belajar juga ke ahlinya ikan seperti ahli Biologi, ataupun Ahli Perikanan yang kompeten. Seorang ahli perikanan yang terlatih dan berpengalaman ditunjang dengan latar pendidikan perikanan tentu dengan sangat mudah bisa menjawab pertanyaan tentang penyakit ikan, cara pengobatannya, dan cara pencegahannya. Misalnya dalam budidaya sidat komponen biaya 26% bibit, 52% biaya pakan, 8% listrik, 3% biaya tenaga pelaksana, 7 % biaya manajemen dan supervisi, 0,5% biaya panen, 1,5% biaya transport, 2% biaya vitamin dan obat. Tentu tidak mahal membayar supervisor yg ahli Biologi atau Perikanan Budidaya yang ahli di bidangnya, daripada misalnya ikan mati semua tanpa ada upaya pencegahan yang berakibat kerugian fatal, bahkan kebangkrutan.
 
Di tambak pandu Krawang (sekarang BLU Pandu Krawang) dahulu pernah terjadi white spot menyerang seluruh udang sehingga mati bayangkan ratusan hektar, semoga tidak terjadi di sidat.
Untuk berbagi dengan rekan-rekan sidaters mari kita belajar mengenai Fish Bone Analysis, suatu tools didalam manajemen. Gambar di awal adalah gambaran Fish Bone Analysis, untuk menganalisa suatu sebab-akibat suatu permasalahan yang diciptakan oleh Kauro Ishikawa http://en.wikipedia.org/wiki/Ishikawa_diagram, yang dapat diterapkan dalam budidaya ikan sidat, contoh kita terapkan menganalisis: Ikan sidat kok masih kuntet-kuntet, “Ada Apa dengan Sidat ?”.

Jadi ada faktor Manajemen, Manusia, Proses, Sumber Daya, Perlengkapan dan Lingkungan, kita identifikasikan satu persatu untuk kemudian dibuat suatu best practice untuk pencegahan masalah, atau perbaikan di dalam budidaya ikan sidat.

Selamat belajar, semoga mencerahkan. Dalam Kebersamaan dan Melayani kita Kuat dan Menjadi Besar.
 
Salam Sidat
 
Ariya Hendrawan
Moderator Milis Sidat (http://groups.yahoo.com/group/sidat)

Read More..

Selasa, 06 September 2011

Fail to Plan is Plan to Fail (Gagal Merencanakan=Merencanakan Kegagalan)

Fail to Plan is Plan to Fail
Dear all Sidaters,
Fail to Plan is Plan to Fail, istilah di dalam manajemen, dikatakan kegagalan dalam perencanaan sebenarnya adalah merencanakan kegagalan itu sendiri, dengan kata lain sukses bergantung perencanaan.

Dalam budi daya ikan sidat perlu perencanaan yang matang, manajemen budi daya ikan yang baik.

Dibutuhkan pengetahuan dari berbagai sudut, seperti biologi, matematik, aquaculture engineering, konstruksi, nutrisi, kimia, hydrologi, modeling, pemasaran dan banyak hal lain.

Seperti mengemudikan mobil, kita tentu akan susah jika ingin berpergian jika tidak ada panel display putaran mesin, kecepatan mobil, banyaknya bensin dalam tangki, arus yang mengalir mengisi accu, dan beberapa parameter. Demikian juga dengan budi daya ikan seperti sidat, perlu mengetahui kadar oksigen terlarut (Disolve Oxygen), kadar amoniak (nitrit, nitrat ), konsentrasi CO2. Pengetahuan mengenai kualitas air juga diperlukan. Dapat terjadi kematian masal ikan jika misalnya karbon dioksida tinggi, atau Oksigen berkurang drastis, dan nitrit dan nitrat yang tinggi meracuni air. Membudidayakan ikan tanpa alat ukur, sensor dan monitor yang memadai tentu sama dengan mengemudikan mobil tanpa panel display.

Hal lain yang diperlukan adalah kemampuan menghitung biaya, serta memperhitungkan unsur tidak terduga seperti hal survival rate (tingkat harapan hidup) ikan sidat, kerapatan tebar, kebutuhan pakan, biaya energi, transportasi.

Dalam marketing dikenal istilah 4 P : Product, Price, Place (distribution), Promotion, dan juga 4 C : (Consumer, Cost, Convinience & Communication, Culture), kemampuan memahami pasar baik lokal dan International dibutuhkan dalam usaha budi daya sidat.

Pengembangan budidaya ikan sidat secara berkolaborasi, mampu mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, sehingga Key of Success (Faktor Keberhasilan) lebih baik lagi, bahkan dapat dikembangkan menjadi skala yang besar. Di Jepang koperasi Sidat (Kumiai) mereka mempunyai lahan yang besar besar berdampingan dalam suatu komunitas, faktor kerjasama sangat menentukan keberhasilan.

Untuk budi daya sidat mesti ditentukan banyak hal, seperti berat/ populasi stok awal pembesaran, target pembesaran akhir (marketable size), lama pemeliharaan, faktor mortality rate, harga beli bibit, harga jual hasil panen, model matematik pertumbuhan sidat.

Dari target kerapatan (density) saat panen dan tebaran (stocking) awal dapat ditentukan luas kolam yang dibutuhkan.

Hal lain seperti debit air, kebutuhan pompa, filter mekanis, filter biologi, biaya panen, biaya tenaga kerja, listrik. Biaya lain yang muncul adalah biaya pakan, obat obatan, vitamin.  Perlu dievaluasi pengayaan oksigen, pembuangan CO2, netralisir Nitrat dan Nitrit.

Sebagai contoh untuk membesarkan sidat dari ukuran 5 gram per ekor, untuk tebaran awal 300 kg (populasi = 60.000) ekor, dibutuhkan luas kolam 3.000 m2, debit air 150 m3/ hari atau 1,735 liter/ detik. Masa pemeliharaan 8 bulan, hasil panen 10.563 ton dijual 1,267 Milyard (untuk jenis Marmorata), Pakan 17,458 ton (perlu biaya 203 juta rupiah). Benefit Cost Ratio 3,2. Laju pertumbuhan harian 0,9%, Food Convertion Ratio 1,67 (1,67 kg pakan akan menghasilkan 1 kg daging ikan untuk satu kali siklus pemeliharaan). Hal di atas adalah contoh, untuk spesies Marmorata akan berbeda jika menggunakan species Sidat Bi Color.

Berbeda species ikan berbeda hasil, model matematik pertumbuhan ikan sidat mesti di ketahui, dimana kita ketahui ikan sidat makan pada suhu 21 derajat celcius tentu akan beda pada suhu 25 atau 28 derajat celcius. Dibawah 14 derajat sudah susah makan, bahkan selama musim salju ikan ini tidur musim dingin mengubur diri di lumpur. Setelah masa sidat jantan dan betina, dapat dibedakan maka ukuran sidat jantan akan berbeda dengan sidat betina dalam waktu yang sama, sidat betina akan lebih besar dari sidat jantan.

Benefit/ Cost Ratio, maupun keuntungan bersih itu adalah faktor dari berbagai hal, bahkan ada faktor tidak terduga seperti mortality rate dari ikan sidat. Jadi pendekatan harus dinamis. Beda kondisi, berbeda pula hasil yg dicapai, dan tidak pernah sama. Jadi jika tidak mengerti model matematik pertumbuhan bobot ikan sidat, pendekatan kalkulasi bisa menyimpang jauh.

Tebaran awal sidat misalkan dimulai dengan 1.000 kg untuk ukuran 50 gram tentu akan menghasilkan hal yg berbeda jika ditebar awal 200 kg, dimana bisa bisa malah rugi misalnya jika di tebar mulai dengan 500 kg bibit 50 gram. Juga pemeliharaan open pond berbeda jika dilakukan dalam lingkungan yg lebih sempit dan terkontrol.

Dahulu BLU Krawang pernah katakan export 30 ton, tetapi apakah ini sukses story, sekarang tidak ada lagi gaungnya, apakah berkelanjutan (sustainable), tidak tahu apakah untung atau rugi. Apakah waktu pemberian pakan optimum, atau malah biaya untuk pakan tidak dialokasikan untuk pakan. Semua akan menentukan sukses story.

Sementara di pasar ikan sidat Jepang dari waktu ke waktu harga ikan sidat terus naik, sangat menarik memang investasi ikan sidat ini. Jadi teman teman perlu perencanaan investasi yang matang dalam budi daya ikan sidat. Fail to plan is Plan To Fail, Semoga mencerahkan.

Salam Sidat
Ariya Hendrawan
Moderator Milis Sidat
Read More..

Jumat, 02 September 2011

Nutrisi Ikan Sidat

Nutrisi Ikan Sidat (klik pada gambar untuk memperbesar)

Nutrisi Ikan Sidat (klik gambar untuk memperbesar)

Read More..

Jumat, 26 Agustus 2011

Effek Dramatis Tag Pemancar Satelit Terhadap Pola Berenang Sidat

 Guido van den Thillart, kecepatan renang sidat
Perjalanan dari sidat Eropa ke daerah pemijahan di Laut Sargasso masih merupakan misteri. Beberapa percobaan telah dilakukan untuk mengikuti ruaya sidat dengan pop-up tag satelit (PSATs), tanpa banyak keberhasilan. Sepertinya sidat adalah perenang yang sangat efisien, tag mungkin mengganggu efisiensi berenang. Disini dilaporkan daya yang dibutuhkan untuk berenang meningkat lebih dari dua kali lipat, disebabkan oleh tag satelit kecil yang umum dipakai. Dampaknya diperoleh dari berbagai kecepatan renang dengan dan tanpa tag di uji dalam sebuah terowongan berenang sepanjang 2 meter. Hasil ini membantu menjelaskan mengapa penggunaan tag PSAT sebelumnya untuk mengidentifikasi situs pemijahan sidat di Laut Sargasso jauh dari berhasil.

Pendahuluan

Selama beberapa dekade, studi pelacakan sidat sidat telah dilakukan untuk mengungkap rute migrasi ke samudera raya, ke daerah pemijahan 6.000 km dari tepi pantai Eropa dengan menggunakan tag akustik dan pengarsipan (Tesch 2003). Baru-baru ini, penggunaan pop-up tag satelit (PSATs), dikembangkan untuk melacak hewan besar (> 50 kg), digunakan dalam beberapa penelitian untuk melacak sidat (Aarestrup dkk 2009;. Jellyman dan Tsukamoto 2002). Meskipun rute migrasi samudera sebagian diperoleh dengan cara ini, daerah pemijahan diasumsikan tidak pernah dicapai.

Hasil menunjukkan, kecepatan perjalanan jauh lebih rendah dari yang dibutuhkan untuk mencapai daerah pemijahan pada waktunya. Kecepatan minimal untuk sidat perak Eropa adalah 0,4 m/detik, ~ 6.000 km dalam waktu 6 bulan-waktu antara meninggalkan pantai dan terjadinya larva pertama (Tesch 2003). Sebaliknya, Aarestrup dkk. (2009) menemukan rata-rata kecepatan migrasi horisontal 13,8 km/ hari, yang sebanding dengan 0,16 m/detik, jelas terlalu lambat. Para penulis menyatakan bahwa ini kecepatan rendah yang tercermin dalam catatan PSAT tersebut.

Pengaruh PSATs pada efisiensi dan perilaku berenang sidat belum diuji sebelumnya. Sidat telah terbukti perenang sangat efisien, mereka adalah lima kali lebih efisien dari pada salmon sehubungan dengan pemanfaatan energi untuk berenang (van Ginneken dan van den Thillart 2000; van den Thillart et al 2004;. Palstra dan van den Thillart 2010 ). Khususnya efisiensi berenang yang sangat tinggi menjadi kekuatan menghadapi seleksi alam yang selama evolusi; sebagai konsekuensinya, setiap gangguan dengan pada bentuk dan gerakan memiliki dampak serius pada biaya transportasi (COT) dan dengan demikian mengganggu keberhasilan migrasi untuk memijah. PSATs saat ini berpenampang hampir sama dengan sidat 1 kg, karenanya daya tarik hidrodinamik hampir dua kali lipat. Tahanan PSAT tidak hanya pada gerak ke depan tapi juga gerak ke samping, yang pasti memiliki efek mengganggu tambahan pada gaya berenang sidat. Selain karena ada daya apung positif PSAT tersebut, akan ada tambahan tarikan ke atas yang konstan, yang juga merusak modus berenang. Dengan demikian, seseorang dapat memastikan ada pengaruh yang kuat dari PSAT dengan mode berenang, kapasitas berenang dan efisiensi berenang. Dalam studi ini kami menguji efek dari PSAT kecil pada efisiensi kolam sidat Eropa betina dengan berat sekitar 1 kg.

Perangkat dan Metode

Test kinerja berenang sidat (percobaan 1-5) dilakukan di terowongan Blazka-jenis kolam 127-L (van den Thillart et al 2004.) Dengan menjalankan air laut alami (35 ppt) pada 18 ± 1 ° C di bawah sinar cahaya merah sesuai dengan protokol tes kecepatan Palstra dkk. (2008). Lima uji coba yang berbeda dilakukan pada masing-masing delapan sidat perak betina ( berat 1026 ± 31 g; panjang 76,5 ± 1,0 cm). Setiap percobaan termasuk 1-hari tes kinerja berenang (tes kecepatan) setelah pengkondisian yang sesuai. Uji coba dilakukan dengan urutan sebagai berikut: (1) tidak ada tag (kontrol), (2) tidak menggunakan tag, setelah dioperasikan (untuk memeriksa efek dari penggunaan); (3) tag dengan daya apung ke atas; (4) tag apung netral; (5) tidak ada tag, setelah pencopotan tag (untuk menguji efek penanganan dan pelatihan). Protokol dirangkum dalam Tabel 1. Tes kecepatan hari ke 1i dilakukan dalam lima langkah 0,4-0,8 m/detik dengan penambahan sebesar 0,1 m/detik pada interval 2-jam. Berenang yang optimal kecepatan-kecepatan terendah COT-berada dalam rentang kecepatan, seperti yang ditunjukkan dalam studi sebelumnya (Palstra et al. 2008). Konsumsi oksigen diukur selama 90 menit pertama dari setiap interval. Ini dihitung dari penurunan konsentrasi oksigen dalam terowongan renang tertutup. Tingkat oksigen yang disimpan antara 95% dan saturasi udara 75%. Untuk mengembalikan tingkat kejenuhan awal, terowongan berenang di isi dengan air yang menggandung udara jenuh selama min 30 terakhir dari setiap interval. Terowongan berenang dikalibrasi dengan teknik aliran Doppler untuk menentukan aliran air yang benar di dalam terowongan (van den Thillart et al. 2004).

Sidat dibiasakan 1 hari sebelum percobaan pada masing-masing terowongan, dan dibiarkan semalam saat berenang pada kecepatan di 0,4 m/detik. Setelah percobaan 1, 20 × 9-mm pelat Teflon (1,5 mm) ditempatkan di bawah kulit hewan percobaan sekitar 30 mm di depan sirip punggung, lokasi yang sama seperti yang digunakan oleh Jellyman dan Tsukamoto (2002). Sebuah penempelan yang sedikit berbeda, digunakan untuk mencegah tertusuknya otot berenang sidat. Sebuah tali sutra dilewatkan melalui pelat dan kulit di kedua sisi, tali ada di luar tubuh. Setelah operasi, sidat ditempatkan kembali ke dalam terowongan renang dan berenang selama 2 hari pada 0,4 ms-1. Percobaan 2 dilakukan 2 hari setelah operasi. Setelah sebuah PSAT dilekatkan pada plat teflon, ada jarak sekitar 20 mm antara ikan dan tag. Sidat ditempatkan kembali di terowongan air dan dibiarkan berenang semalaman pada kecepatan 0,3 m/detik. Kecepatan yang lebih rendah diperlukan, karena sidat tidak bisa berenang lebih cepat semalaman dengan PSAT terpasang. Pada akhir percobaan 3, logam kecil seberat (10,9 g) ditambahkan ke tag untuk menciptakan daya apung netral. Sidat ditempatkan kembali di terowongan dan dibiarkan berenang semalaman pada kecepatan 0,3 m/detik. Setelah percobaan 4 PSAT di lepas dan sidat dibiarkan berenang semalaman pada kecepatan 0,4 m/detik. Percobaan terakhir (5) dilakukan untuk mengontrol apakah penanganan dan tes berenang sebelumnya mengubah kinerja berenang. Pada akhir setiap percobaan, kecepatan diatur pada 0,1 m/detik selama 1,5 jam untuk mengukur kondisi istirahat. Kecepatan rendah ini diperlukan untuk menjaga air tercampur dengan baik, sementara cukup rendah untuk sidat tinggal beristirahat. Kecepatan berenang yang optimal (COT) dan kecepatan renang kritis dihitung menurut Brett (1964). Menurut metode ini, kecepatan renang meningkat pada interval> 30 menit, pada 8-10 peningkatan yang sama sampai maksimum, kecepatan kritis ini kemudian diinterpolasi dari dua kecepatan terakhir.

Hasil secara statistik diuji dengan menggunakan ANOVA pengukuran berulang. Dimensi PSAT adalah: panjang tubuh 115 mm, diameter bagian pertama 20 mm, diameter bagian kedua non-fungsional 40 mm, panjang antena 170 mm dan berat 53 g. di udara, Tag yang digunakan adalah difungsikan, tetapi berhubungan dalam ukuran dan daya apung dengan PAT mini dari Komputer Margasatwa. Percobaan dilakukan menurut hukum Belanda pada hewan percobaan dengan persetujuan # DEC-10089.
 
Hasil Pengamatan dan Diskusi
 
Dalam studi ini, sidat perak betina berenang pada kecepatan 0,1-0,8 m/detik, dengan dan tanpa PSAT. Kinerja berenang diuji dengan tes kecepatan 1-hari di lima kondisi yang berbeda (Tabel 1). Tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat konsumsi oksigen (pada semua kecepatan) antara kondisi tanpa tag, yaitu percobaan 1, 2, 5 (Gambar 1a, P> 0,05). Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada efek negatif dari operasi pada efisiensi berenang dari sidat. Demikian hasil percobaan 1, 2 dan 5 dapat dianggap sebagai kontrol. Sebaliknya, ketika sebuah PSAT melekat pada sidat (percobaan 3 dan 4), konsumsi oksigen selama berenang lebih dari dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol (P <0,001, Gambar. 1a). Bahkan ketika PSAT itu dibuat netral apung (trial 4), konsumsi oksigen selama berenang masih dua kali lipat lebih tinggi daripada kontrol (P <0,001). Karena tidak ada perbedaan yang signifikan ditemukan antara vs positif PSAT apung netral (P> 0,05), hasil menunjukkan bahwa tahan dibanding daya angkat PSAT adalah faktor yang paling penting merusak kinerja berenang. Meskipun, migrasi vertikal seperti yang diamati untuk sidat di alam liar (et al Aarestrup. 2009) tidak dapat disimulasikan selama penelitian ini.
 
Juga COT secara signifikan lebih tinggi saat sidat berenang dengan PSAT (P <0,001, Gambar. 1b), yaitu perubahan dari 25 ke 75 mg/ kg O2 h-1. Sidat dengan PSAT yang menunjukkan berenang tidak teratur pada 0,5 m/detik dan lelah setelah beberapa menit ketika kecepatan dinaikkan menjadi 0,6 ms-1. Sepertinya sidat memiliki modus berenang yang sangat teratur dengan frekuensi gelombang hampir konstan, berenang tidak teratur akan segera terlihat. Perhitungan kecepatan berenang kritikal dengan sebuah PSAT secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol; yaitu 0,48 ± 0,02 dan 0,73 ± 0,02 ms-1 masing-masing (P <0,001). Sebaliknya, selama percobaan tanpa PSAT, semua sidat mampu berenang sampai 0,8 ms-1. Hasil uji coba 1, 2, dan 5 (tanpa PSAT) sebanding dengan hasil ilmiah yang diterbitkan baru-baru ini (Palstra et al 2008.). Dalam penelitian terbaru, Steinhausen dkk (2006) mengamati bahwa tag eksternal meningkatkan konsumsi oksigen ikan cod pada kecepatan berenang tinggi, sementara kecepatan berenang yang optimal dan kritikal menurun secara signifikan. Dalam penelitian kami, dengan PSAT yang lebih besar, kami mengamati pola berenang sudah sangat terganggu pada kecepatan rendah. Perbedaan antara dua telaah mungkin karena mode yang berbeda dari kolam, yaitu subcarangiform vs anguilliform, tetapi lebih mungkin karena perbedaan agak besar di tahanan tambahan (sesuai dengan permukaan penampang dari tag, yaitu ~ 2 vs ~ 13 cm2 masing-masing). Meskipun teknologi maju tag, tag menunjukkan efek negatif dalam beberapa penelitian tentang berenang, kelangsungan hidup perilaku kinerja, dan tingkat pertumbuhan (Bridger dan Booth 2003; Makiguchi dan Ueda 2009). Efek negatif tag eksternal terhadap kinerja renang juga ditemukan pada hewan lain seperti penguin (Saraux et al. 2011) dan segel (Hazekamp et al. 2010). Ini jelas memerlukan perbaikan lebih lanjut dari tag saat ini. Sebagai kesimpulan, hasil kami menunjukkan efek dramatis dari PSAT terkecil yang ada pada efisiensi berenang sidat Eropa: lebih dari dua kali lipat, lebih tinggi mengkonsumsi oksigen pada semua kecepatan jelajah yang diuji dan kinerja berenang sangat berkurang. Oleh karena itu, PSATs lebih kecil lagi dibutuhka untuk mengurangi gangguan kinerja berenang diperlukan untuk mengungkap perjalanan sidat Eropa yang masih misterius ke daerah pemijahan. 

Guido E. E. J. M. van den Thillart (Dari Jurnal Springer), di terjemahkan oleh Ariya Hendrawan (moderator forum diskusi sidat di http://groups.yahoo.com/group/sidat
Read More..

Unagi Kabayaki (resep ikan sidat masakan Jepang)

Unagi Kabayaki
Unagi Kabayaki - Sidat Panggang (Resep ikan sidat masakan Jepang) untuk 2-4 orang

Bahan:
300 gram Sidat (Unagi) masak atau 450 gram fillet ikan sidat
pickled ginger (acar jahe)
Bubuk Sansho
Saus kabayaki (lihat di bawah)

Bahan Saus Kabayaki:
3 sendok makan sake
2 sendok makan mirin (sweet rice wine)
2 sendok makan kecap jepang (Japanese soy sauce)
4 sendok teh gula
1/2 mangkuk kaldu ikan

  1. Siapkan saus kabayaki lalu sisihkan
  2. Tusukan 2 atau 3 tusuk sate ke fillet sidat sehingga bentuknya tetap saat di panggang.
  3. Panggang sidat di atas arang selama 3 menit, dagingnya menghadap bara api.
  4. Ulas sidat dengan saus, dan panggang lagi kedua sisi selama 1 menit, ulangi beberapa kali dengan 1 menit untuk tiap sisi.
  5. Tempatkan sidat masak pada tatakan, putar tusuk sate dan tarik pelan pelan, kemudian potong sidat sepanjang 4 inchi, dan sajikan di atas nasi.
  6. Hidangkan sidat panggang hangat dengan timun jepang, acar jahe dan bubuk sansho
Cara membuat Saus Kabayaki:
Untuk membuat saus, tempatkan semua bahan dalam panci lalu rebus.
Gunakan api kecil, aduk sampai saus menjadi separuhnya.
by: Ariya Hendrawan
Read More..

Membuat Unagi Nigiri (Resep Ikan Sidat Masakan Jepang)

Unagi Nigiri
Resep Membuat Unagi Nigiri

Bahan:
Nasi Sushi (sushi rice)
Ikan Sidat panggang (unagi-smoked eel)
Rumput laut kering (nori)
Wijen (sesame seeds)
Saus Kabayaki (kabayaki sauce)
1 knife
1 bowl of water

  1. Ikan Sidat (Unagi) dihidangkan hangat. Panaskan dalam panggangan microwave 1 menit.
  2. Untuk membentuk sushi, basahi tangan anda dengan air dalam mangkuk, untuk menghindari nasi melekat pada tangan anda.
  3. Ambil sebagian nasi dan bentuk memanjang, istilah nigiri artinya "dibentuk dengan tangan"
  4. Letakan sidat panggang (unagi) di atas nasi, dan ikat dengan rumput laut (nori) melintang ditengah potongan ikan,  lekatkan kedua ujung nori.
  5. Ulasi dengan saus kabayaki sauce, saus ini rasanya agak manis, dan taburi dengan wijen.
by: Ariya Hendrawan
Read More..

Kamis, 18 Agustus 2011

Pengalaman Sidaters Pak Timotheus Soemadi Berburu Sidat

Timotheus Soemadi Pemburu Sidat
Dear All sidaters,

Saya selama ini hanya menjadi pembaca surat email dari rekan-rekan semua, yang terutama tulisan dari pak moderator sebagai leadernya.

Semua tulisan baik adanya dan mempunyai kualitas dan berbeda-beda pandangan tapi satu tujuan yaitu bermakna dan punya arti.

Saat ini saya sebagai pencari sidat/ masapi/ sogili di Sulawesi Tengah, dengan meninggalkan anak-istri demi sidat dan bermukim di daerah kabupaten Donggala Sulteng.


Metoda pencarian adalah dengan cara membuat stroom dari accu 10 ampere juga dengan bubu atau dipancing. 

Stroom accu saya berikan kepada masyarakat/ penduduk yang mau bekerja mencari sidat pada malam hari yang hasilnya akan saya beli, walaupun mereka kembali dari berburu dari sungai/ kuala pada pukul 03.00 atau subuh pagi buta, tetap terjadi transaksi. Begitu juga sidat yang ditangkap dengan bubu atau dipancing tetap saya beli tentu dengan harga yg pantas karena sarana dan alat sudah saya siapkan/ pinjamkan.
 
Mengingat cara budidaya dari glass eel hingga layak konsumsi cukup lama, maka saya memilih menggunakan cara membuat stroom accu 10 A, atau menangkap ikan sidat dengan bubu atau dipancing.
 
Kendala kendala di lapangan :
 
1. Sumber Daya Manusia

Walaupun managemen di dalam perusahaan atau pribadi baik, tapi harus juga perlu dicari SDM yang berkualitas dan bisa dipercaya untuk dilapangan.

Contoh :
  • Walaupun semua alat ada, siap pakai dan lengkap (dipinjamkan), namanya manusia mereka(pencari) tetap melirik kepada yg mau membeli dengan harga tinggi.
  • Ada yang minta peralatan lengkap hingga tabung oxigen kapasitas 2 m3 hingga obat-obatan dan uang jutaan untuk modal kerja, tapi tidak setor-setor sidatnya, setelah didatangi kenapa sudah 1,5 bulan tdk kirim sidat, jawaban simple: sidatnya pada mati. Ketika di cross-cek kepada orang lain dan tetangga terdekatnya ternyata dijual kepada orang lain.
  • Ada kendala lain seperti pencurian saat sidat diletakan dijaring penampungan sementara di dalam sungai, karena lokasi jauh diatas gunung yg berjarak puluhan km yang hanya bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki. Setelah sidat terkumpul banyak baru dimasukan kantong plastik dan diberikan oksigen lalu dikirim.
  • Jika mencari sidat dengan cara distroom menggunakan accu bobotnya akan berkurang sekitar 1 ons. Mereka pencari sidat merasa yakin kalau sidatnya itu ukuran seumpama 1 kg ternyata setelah ditimbang kok menjadi 9 ons, ini bisa jadi masalah tersendiri.
  • Masalah lain seperti listrik padam hingga 5-7 jam,bahkan pernah hingga lebih.
    Hindari mencari sidat yang lokasinya dekat dengan dengan area tambang emas, limbah merkuri akan sangat berbahaya jika sidat berasal dari lokasi tersebut.
  • Metoda membawa sidat yang berjarak puluhan atau ratusan km ke kolam penampung jika kapasitas oksigen sedikit, bisa fatal akibatnya, ini juga perlu diantisipasi.
  • Masa menunggu di penampungan juga perlu dipikirkan karena dengan jumlah yg cukup banyak untuk dikirim, kadang diberi pellet mau makan, kadang tidak, terpaksa mencari ikan/cumi untuk bisa menjaga kondisi dan bobot tubuhnya.
2. Kesimpulan kesimpulan yang bisa diambil dari usaha budidaya sidat adalah :

Betul apa yang disadur oleh pak Ariya tulisan dibawah ini.

  • Harus dibuatkan semacam refensi dari hilir sampai hulu hal tentang biology hewan tesebut, baik cara pembuatan pakan dan jam berapa mereka mau makannya juga kalau sakit harus bagaimana, tehnik pengiriman bagaimana dan sampai tujuan pembeli/ end buyer bagaimana.
  • Tehnik pengemasan waktu mau mengirim melalui bandara, berapa ekor tiap kantong plastik. Jangan menggunakan pesawat yg transit karena daya tahan oksigen waktunya terbatas, dan kualitas air waktu dibawa dari lokasi penampungan harus diganti dengan air baru di bagian kargo/ bandara
  • Menghindari sidat makan lendirnya sendiri.
  • Harus siap es batu atau bunga es dalam kotak gabus pengiriman agar tidak panas.
  • Jadi hal hal kecil juga perlu diperhatikan, jika tidak bisa fatal akibatnya, maaf bukan menggurui, ini dasar dari pengalaman.
  • Besar kecilnya kolam penampungan utk budidaya juga perlu dibuatkan ukurannya yang ideal, dan sidat besar dan kecil harus dipisah mengingat yg besar bisa makan sidat kecil.
 
Sidat ini adalah binatang pemalu alias suka ngumpet dan senangnya suka masuk lubang yang gelap, tidak suka dilihat manusia.
 
  • Metoda pengobatan jika sidat sakit harus bagaimana dan obatnya apa saja yang perlu disiapkan.
     
  • Bagaimana jika sidat matang gonad cara antisipasinya dan bagaimana ciri-ciri nya, mengingat cara hidup hewan tersebut cukup unik, besar di air tawar bertelur di air laut.
  • Hindari cara mencari sidat dengan cara stroom dari genset atau tuba/ diracun, jika anda melihat bisa distop dan dilarang, karena sidat dan binatang lainnya yg kecil2/ bibit bisa langsung mati, ini sangat berbahaya bagi ekosistem dan perkembangbiakan sidat dan binatang lainnya.
  • Perhitungan biaya investasi harus dibuat secara rinci,matang dan hati hati.
  • Perlu dibuatkan disetiap kabupaten atau propinsi tempat kursus/pelatihan dan pengenalan tentang belut mahal ini.
  • Pelatihan tata cara export dengan deperindag diperluas jangkauannya jangan hanya ada dikota kota besar saja, ungkin disetiap propinsi diadakan dan tidak hanya melulu sidat saja, tapi juga ikan yang lainnya.
    Term payment trading juga harus di perhatikan (FOB, CIF, CNF Franco/locco) dll, ini juga masuk dalam pelatihan PPEI deperindag.
  • Jika mendapatkan sidatnya mati tidak usah khawatir karena masih punya harga jual jika isi perut dan kepalanya dibuang lalu masukan frezzer atau dibuat frozen. Ukuran yang bisa dibeli mulai 7 ons up tanpa dipotong potong. Kebetulan saya ada pembeli serius yang siap menampung. Asalkan tidak dari daerah penangkapan/penangkaran dari dekat lokasi tambang emas atau tambang yg banyak menggunakan bahan baku merkuri, karena akan di reject.
 
Hal hal lain yang terkait, mungkin rekan rekan atau moderator bisa menambahkan.

Demikian sedikit ulasan yg saya bisa berikan, terima kasih.

Koeat Karena Bersatoe, Bersatoe Karena Koeat (Bung Karno).

Read More..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...