Selasa, 06 September 2011

Fail to Plan is Plan to Fail (Gagal Merencanakan=Merencanakan Kegagalan)

Fail to Plan is Plan to Fail
Dear all Sidaters,
Fail to Plan is Plan to Fail, istilah di dalam manajemen, dikatakan kegagalan dalam perencanaan sebenarnya adalah merencanakan kegagalan itu sendiri, dengan kata lain sukses bergantung perencanaan.

Dalam budi daya ikan sidat perlu perencanaan yang matang, manajemen budi daya ikan yang baik.

Dibutuhkan pengetahuan dari berbagai sudut, seperti biologi, matematik, aquaculture engineering, konstruksi, nutrisi, kimia, hydrologi, modeling, pemasaran dan banyak hal lain.

Seperti mengemudikan mobil, kita tentu akan susah jika ingin berpergian jika tidak ada panel display putaran mesin, kecepatan mobil, banyaknya bensin dalam tangki, arus yang mengalir mengisi accu, dan beberapa parameter. Demikian juga dengan budi daya ikan seperti sidat, perlu mengetahui kadar oksigen terlarut (Disolve Oxygen), kadar amoniak (nitrit, nitrat ), konsentrasi CO2. Pengetahuan mengenai kualitas air juga diperlukan. Dapat terjadi kematian masal ikan jika misalnya karbon dioksida tinggi, atau Oksigen berkurang drastis, dan nitrit dan nitrat yang tinggi meracuni air. Membudidayakan ikan tanpa alat ukur, sensor dan monitor yang memadai tentu sama dengan mengemudikan mobil tanpa panel display.

Hal lain yang diperlukan adalah kemampuan menghitung biaya, serta memperhitungkan unsur tidak terduga seperti hal survival rate (tingkat harapan hidup) ikan sidat, kerapatan tebar, kebutuhan pakan, biaya energi, transportasi.

Dalam marketing dikenal istilah 4 P : Product, Price, Place (distribution), Promotion, dan juga 4 C : (Consumer, Cost, Convinience & Communication, Culture), kemampuan memahami pasar baik lokal dan International dibutuhkan dalam usaha budi daya sidat.

Pengembangan budidaya ikan sidat secara berkolaborasi, mampu mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, sehingga Key of Success (Faktor Keberhasilan) lebih baik lagi, bahkan dapat dikembangkan menjadi skala yang besar. Di Jepang koperasi Sidat (Kumiai) mereka mempunyai lahan yang besar besar berdampingan dalam suatu komunitas, faktor kerjasama sangat menentukan keberhasilan.

Untuk budi daya sidat mesti ditentukan banyak hal, seperti berat/ populasi stok awal pembesaran, target pembesaran akhir (marketable size), lama pemeliharaan, faktor mortality rate, harga beli bibit, harga jual hasil panen, model matematik pertumbuhan sidat.

Dari target kerapatan (density) saat panen dan tebaran (stocking) awal dapat ditentukan luas kolam yang dibutuhkan.

Hal lain seperti debit air, kebutuhan pompa, filter mekanis, filter biologi, biaya panen, biaya tenaga kerja, listrik. Biaya lain yang muncul adalah biaya pakan, obat obatan, vitamin.  Perlu dievaluasi pengayaan oksigen, pembuangan CO2, netralisir Nitrat dan Nitrit.

Sebagai contoh untuk membesarkan sidat dari ukuran 5 gram per ekor, untuk tebaran awal 300 kg (populasi = 60.000) ekor, dibutuhkan luas kolam 3.000 m2, debit air 150 m3/ hari atau 1,735 liter/ detik. Masa pemeliharaan 8 bulan, hasil panen 10.563 ton dijual 1,267 Milyard (untuk jenis Marmorata), Pakan 17,458 ton (perlu biaya 203 juta rupiah). Benefit Cost Ratio 3,2. Laju pertumbuhan harian 0,9%, Food Convertion Ratio 1,67 (1,67 kg pakan akan menghasilkan 1 kg daging ikan untuk satu kali siklus pemeliharaan). Hal di atas adalah contoh, untuk spesies Marmorata akan berbeda jika menggunakan species Sidat Bi Color.

Berbeda species ikan berbeda hasil, model matematik pertumbuhan ikan sidat mesti di ketahui, dimana kita ketahui ikan sidat makan pada suhu 21 derajat celcius tentu akan beda pada suhu 25 atau 28 derajat celcius. Dibawah 14 derajat sudah susah makan, bahkan selama musim salju ikan ini tidur musim dingin mengubur diri di lumpur. Setelah masa sidat jantan dan betina, dapat dibedakan maka ukuran sidat jantan akan berbeda dengan sidat betina dalam waktu yang sama, sidat betina akan lebih besar dari sidat jantan.

Benefit/ Cost Ratio, maupun keuntungan bersih itu adalah faktor dari berbagai hal, bahkan ada faktor tidak terduga seperti mortality rate dari ikan sidat. Jadi pendekatan harus dinamis. Beda kondisi, berbeda pula hasil yg dicapai, dan tidak pernah sama. Jadi jika tidak mengerti model matematik pertumbuhan bobot ikan sidat, pendekatan kalkulasi bisa menyimpang jauh.

Tebaran awal sidat misalkan dimulai dengan 1.000 kg untuk ukuran 50 gram tentu akan menghasilkan hal yg berbeda jika ditebar awal 200 kg, dimana bisa bisa malah rugi misalnya jika di tebar mulai dengan 500 kg bibit 50 gram. Juga pemeliharaan open pond berbeda jika dilakukan dalam lingkungan yg lebih sempit dan terkontrol.

Dahulu BLU Krawang pernah katakan export 30 ton, tetapi apakah ini sukses story, sekarang tidak ada lagi gaungnya, apakah berkelanjutan (sustainable), tidak tahu apakah untung atau rugi. Apakah waktu pemberian pakan optimum, atau malah biaya untuk pakan tidak dialokasikan untuk pakan. Semua akan menentukan sukses story.

Sementara di pasar ikan sidat Jepang dari waktu ke waktu harga ikan sidat terus naik, sangat menarik memang investasi ikan sidat ini. Jadi teman teman perlu perencanaan investasi yang matang dalam budi daya ikan sidat. Fail to plan is Plan To Fail, Semoga mencerahkan.

Salam Sidat
Ariya Hendrawan
Moderator Milis Sidat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...